Showing posts with label Al-Qur'an & Al-Hadits. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an & Al-Hadits. Show all posts

Aug 19, 2014

Apakah sebutan “Ma syaa Allah” memiliki kaitan dengan qadar dan qadha?

Sebutan yang lengkap ialah: مَا شَاءَ اللَّهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
Bermakna “Apa yang dikehendaki oleh Allah, tidak ada kekuatan melainkan dengan (kehendak Allah).” Sebutan ini memang memiliki kaitan dengan qadar dan qadha, disebut atau diucapkan apabila seseorang itu mendapat atau melihat sesuatu nikmat atau karunia. Apabila menyebutnya, berarti seseorang itu menyandarkan nikmat atau karunia itu kepada kehendak Allah dan mengakui bahwa tidaklah dia memiliki kekuatan ke atas nikmat atau karunia tersebut melainkan ia adalah kehendak Allah Subhanahu waTa’ala.
Penyebutan ini menunjukkan seseorang itu paham dan beriman kepada qadar dan qadha serta bersikap rendah diri kepada Allah. Sikap terpuji seperti ini patut menjadi salah satu dasar seorang muslim.
Marilah kita lihat contoh penggunaannya dalam ayat berikut:
وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالاً وَأَعَزُّ نَفَرًا. وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا. وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا.
قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلاً. لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلاَ أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا.
وَلَوْلاَ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ.
إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالاً وَوَلَدًا. فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا.
dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat". Dan dia pun masuk ke kebunnya (bersama rekannya) sedang dia berlaku zalim kepada dirinya sendiri sambil dia berkata: “Aku fikir kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu."
Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.  
Dan sepatutnya saat engkau masuk ke kebunmu, berkata: مَا شَاءَ اللَّهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
Apa yang dikehendaki oleh Allah, tidak ada kekuatan melainkan dengan (kehendak Allah).’
Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; [al-Kahf 18:34-40]

Dalam ayat di atas, seseorang yang bangga dengan kebunnya ditegur bahwa dia sepatutnya menyandarkan nikmat kebun tersebut kepada Allah dengan berkata: “Apa yang dikehendaki oleh Allah, tidak ada kekuatan melainkan dengan (kehendak Allah).” Memang, dia yang memilih untuk berkebun dan mengusahakan kebun tersebut. Namun pilihannya itu hanya tercapai apabila ia bersesuaian dengan kehendak Allah. Bagaimana kuat sekalipun dia berusaha, ia hanya akan berhasil jika bersesuaian dengan kehendak Allah. Maka janganlah angkuh atau berbangga dengan kebun tersebut, sebaliknya kembalikanlah ia kepada Allah Subhanahu waTa’ala.
Oleh itu apabila kita mendapati sesuatu nikmat atau karunia pada diri kita, hubungkanlah ia kepada Allah. Apabila kita memiliki rumah yang indah, kereta yang mewah dan pekerjaan yang bagus, hubungkanlah ia kepada Allah. Apabila orang memuji sesuatu kepada kita, hubungkanlah ia kepada Allah. Apabila kita melihat sesuatu nikmat atau kurniaan pada orang lain, hubungkanlah ia kepada Allah. Sebutlah: مَا شَاءَ اللَّهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
Apa yang dikehendaki oleh Allah, tidak ada kekuatan melainkan dengan kehendak Allah.”
Akan tetapi apabila mendapati atau melihat sesuatu yang mungkar, jangan menyebut: “Apa yang dikehendaki oleh Allah, tidak ada kekuatan melainkan dengan (kehendak Allah).” Ini karena sekalipun kemungkaran tersebut adalah kehendak Allah, ia adalah kehendak yang dibenci oleh Allah (al-Kauniyyah yang dibenci). Allah tidak meridhainya, justeru jangan memuji Allah ke atasnya. Sebaliknya sebutlah “Subhanallah” yang berarti “Maha Suci Allah”. Kita mensucikan Allah dari kemungkaran tersebut.

Jul 18, 2014

Doa Panjang Umur



Para ilmuan Islam berbeda pendapat tentang persoalan ini. Perbedaan mereka dapat dirumuskan kepada dua pendapat:
Pendapat Pertama:
Tidak dibolehkan untuk berdoa panjang umur berdasarkan hadits berikut di mana Umm Habibah radhiallahu ‘anha, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa:
اللَّهُمَّ أَمْتِعْنِي بِزَوْجِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِأَبِي أَبِي سُفْيَانَ وَبِأَخِي مُعَاوِيَةَ.
قَالَ: فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ سَأَلْتِ اللَّهَ لآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ
وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا
عَنْ حِلِّهِ وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللَّهَ أَنْ يُعِيذَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ أَوْ عَذَابٍ
فِي الْقَبْرِ كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ.
Ya Allah, berikanlah aku kenikmatan (panjangkanlah usiaku) bersama suamiku, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ayahku Abu Sufyan dan saudaraku Mu'awiyah.”
(Perawi) Berkata: Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kamu memohon kepada Allah ajal yang telah ditentukan, hari-hari yang telah terhitung dan rezeki yang telah dibagikan di mana Allah tidak akan mengawalkan ataupun memundurkan sebelum waktunya. Seandainya kamu memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu dari siksa neraka atau siksa kubur, maka hal itu lebih baik dan lebih utama.” (1)
Pendapat Kedua:
Dibolehkan berdoa panjang umur berdasarkan hadits-hadits berikut:
*     Keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ.
Tidak ada yang dapat mencegah qadha melainkan doa. (2)
*     Doa Nabi Adam ‘alahissalam agar Allah Subhanahu waTa’ala menambah umur Nabi Daud ‘alahissalam. Ini merujuk kepada sebuah hadits apabila Nabi Adam ditunjukkan anak-anak keturunannya:
قَالَ: يَا رَبِّ مَنْ هَذَا؟
قَالَ: هَذَا ابْنُكَ دَاوُدُ قَدْ كَتَبْتُ لَهُ عُمْرَ أَرْبَعِينَ سَنَةً.
قَالَ: يَا رَبِّ زِدْهُ فِي عُمْرِهِ.
قَالَ: ذَاكَ الَّذِي كَتَبْتُ لَهُ.
قَالَ: أَيْ رَبِّ فَإِنِّي قَدْ جَعَلْتُ لَهُ مِنْ عُمْرِي سِتِّينَ سَنَةً.
قَالَ: أَنْتَ وَذَاكَ.
Adam berkata: “Wahai Tuhanku, siapakah orang ini?” Allah berfirman: “Ini ialah anak (keturunan)mu Daud, Aku telah menuliskan umurnya empat puluh tahun.” Adam berkata: “Wahai Tuhanku, tambahlah umurnya.” Allah berfirman: “Itu yang telah aku tulis untuknya.” Adam berkata: “Wahai Tuhanku, aku telah memberikan sebagian umurku untuknya (yaitu) enam puluh tahun.” Allah berfirman: “Itu adalah hakmu (maka terpulanglah untuk kamu memberikannya).” (3)
Hadits ini seterusnya menerangkan Allah memperkenankan doa dan pemberian umur Nabi Adam kepada Nabi Daud.
*     Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Anas bin Malik radhiallahu ‘anh:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَأَطِلْ حَيَاتَهُ وَاغْفِرْ لَهُ.
Ya Allah, perbanyakkanlah hartanya dan anaknya, panjangkanlah umurnya dan berilah keampunan kepadanya. (4)
Berdasarkan kehendak Allah, Anas bin Malik meninggal dunia pada umur 99 tahun. Dalam riwayat lain disebut pada umur 107 tahun.
*     Doa Sa’ad bin Abi Waqash ke atas orang yang memfitnahnya:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ عَبْدُكَ هَذَا كَاذِبًا قَامَ رِيَاءً وَسُمْعَةً فَأَطِلْ عُمْرَهُ وَأَطِلْ فَقْرَهُ وَعَرِّضْهُ بِالْفِتَنِ.
Ya Allah jika dia, hambamu ini, berdusta dan mengatakan ini dengan maksud riya’ dan sum’ah, maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kefakirannya dan campakkanlah dia dengan pelbagai fitnah. (5)
Berdasarkan kehendak Allah, pemfitnah tersebut memang hidup sehingga tua renta.
Demikian empat hadits yang dijadikan dalil oleh pihak yang berkata boleh berdoa agar Allah Subhanahu waTa’ala memanjangkan umur kita atau orang lain. Di antara dua pendapat ini, saya cenderung kepada pendapat yang kedua. Adapun cegahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Umm Habibah, mungkin ada sesuatu yang merujuk kepada peribadi Umm Habibah sehingga beliau dicegah untuk mendoakan panjang umur. Adapun taqdir umur dan rezeki yang tidak dapat diubah, ia merujuk kepada Taqdir Mubram dan bukannya Taqdir Mu’allaq.
****
 (1)Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadits no: 4814 (Kitab al-Qadar, Bab penjelasan bahwa ajal, rezeki dan selainnya tidak bertambah dan berkurang.)
(2)Hasan: Dikeluarkan oleh al-Tirmizi dalam Sunannya dan beliau berkata: “Hadits ini hasan gharib.” Ia dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan al-Tirmizi, hadits no: 2139 (Kitab al-Qadar, Bab takdir tidak bisa ditolak kecuali dengan doa).
(3)Sahih: Dikeluarkan oleh al-Tirmizi dalam Sunannya dan beliau berkata: “Hadits ini hasan gharib.” Ia dinilai hasan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan al-Tirmizi, hadits no: 3368 (Kitab Tafsir al-Qur’an, Bab selepas bab surah al-Mu’awwizataini).
(4)Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Adab al-Mufrad, hadits no: 653 (Bab orang yang berdoa agar panjang umur).
(5)Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadits no: 713 (Kitab al-Azan, Bab wajib membaca (surah al-Fatihah) bagi imam dan makmum dalam setiap shalat…)

Jun 30, 2014

Kesempatan Besar Masuk Dalam: 70.000 orang masuk surga tanpa dihisab



Pada saat bersama kumpulan ramai, jibril menerangkan :  
“Mereka ialah umatmu dan mereka didahului oleh tujuh puluh ribu orang yang (akan masuk syurga) tanpa dihisab maupun diazab.” Rasulullah bertanya: “Mengapa (mereka mendapat keistimewaan itu)?” Jibril menjawab: “Mereka (ketika di dunia dahulu) tidak berobat dengan besi panas, tidak minta dijampi, tidak mempercayai nasib baik atau buruk dan ke atas tuhan merekalah, mereka bertawakkal.” (1)
Hadits ini tidak bermaksud menerangkan ciri-ciri orang yang bertawakkal, tetapi bermaksud menerangkan empat kategori orang yang bakal memasuki syurga pada Hari Akhirat kelak tanpa hisab maupun azab. Mereka ialah:
Pertama: Mereka yang tidak berobat dengan besi panas. Ini bukan berarti tidak berobat dengan besi panas karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri berobat dengan besi panas dan ia merupakan cara perobatan yang umum pada zaman itu. Hanya Rasulullah tidak menyukainya dan merupakan pilihan terakhir dengan syarat tidak memudaratkan. (2)
Akan tetapi arti sebenarnya ialah dalam rangka berobat apakah dengan besi panas atau selainnya, seseorang itu tidak menjadikan obat sebagai penyebab kesembuhan sebaliknya menjadikan Allah sebagai penyebabnya. Obat ialah sebab sementara kesembuhan bukanlah musabab. Sebab ialah usaha manusia sementara musabab ialah kehendak Allah Subhanahu waTa’ala. Ini sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam al-Qur’an:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ.
Dan apabila aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkan penyakitku. [al-Syu’ara 26:80]
Perkara ini amat perlu diperhatikan karena kebanyakan umat Islam pada masa kini mengharap dan menyandarkan penyembuhan kepada obat-obatan, dokter dan pengobatan alternative.
 Kedua: Mereka yang tidak meminta dijampi. Ini tidak bermaksud jampi-jampian itu dilarang karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menjampi dan dijampi. Akan tetapi yang dimaksudkan ialah meminta jampi-jampian yang tidak diajar oleh Rasulullah.
Ini karena jampi-jampian secara umum memiliki kesalahan di dalamnya. Jika jampi-jampian itu berasal dari al-Qur’an, maka ia cenderung kepada penyalahgunaan ayat, jauh dari arti dan tafsiran yang sebenar.  Jika jampi-jampian itu berasal dari selain al-Qur’an, maka ia cenderung memiliki unsur syirik, khurafat atau pemujaan kepada jin. Justeru yang terbaik lagi selamat ialah jampi-jampian yang diajar oleh Rasulullah. Ia terdiri dari ayat-ayat al-Qur’an, zikir dan doa yang rasulullah amalkan dan ajarkan.
 Ketiga: Mereka yang tidak mempercayai nasib baik atau buruk. Ini merujuk kepada kepercayaan khurafat dan syirik yang ada pada zaman Rasulullah hingga ke masa kini. Ada orang yang mempercayai benda-benda atau perbuatan tertentu bisa membawa tuah atau nasib yang baik (good luck) sementara benda-benda atau perbuatan lain bisa mengakibatkan sial atau nasib yang buruk (bad luck).
Baik atau buruk, selamat atau mudarat, semuanya ditentukan oleh qadar dan qadha Allah Subhanahu waTa’ala. Justru siapa yang memiliki keyakinan yang bersih dari sembarang kepercayaan nasib baik dan buruk, dia akan dapat memasuki syurga – dengan kehendak Allah – tanpa hisab dan azab.
 Keempat: Mereka yang bertawakkal kepada Allah Subhanahu waTa’ala. Ini sebagaimana yang telah diterangkan dalam soalan: “Di manakah peranan tawakkal dalam sebab-musabab dan apa kaitan tawakkal dengan taqdir?”
Kesudahannya, hadits di atas tidak mengetepikan usaha. Ia sebenarnya menerangkan keutamaan orang yang mengusahakan sebab lalu menyandarkan musabab kepada Allah, memastikan sebab-sebab yang diusahakan adalah benar lagi selamat dari sudut syari’at Islam dan ilmu pengetahuan, menjauhi keyakinan khurafat dan syirik serta bertawakkal kepada Allah. Tidak banyak orang yang dalam kehidupan sehari-hariannya dapat menghimpun empat sifat yang mulia ini. Atas dasar inilah mereka yang berhasil menghimpunkannya berada di hadapan seluruh umat Islam pada Hari Akhirat nanti dan – dengan kehendak Allah – dapat memasuki syurga tanpa hisab dan azab.
****
(1)Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadits no: 6059 (Kitab al-Riqaq, Bab tujuh puluh ribu orang yang masuk syurga tanpa hisab).
[2] Ringkasan dari penjelasan Ibn al-Qayyim rahimahullah dalam Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad (edisi terjemahan dan terbitan Griya Ilmu atas judul Zadul Ma’ad: Bekal Perjalanan Ke Akhirat; Griya Ilmu, Jakarta, 2010), jld. 5, ms. 71-73.

Jun 17, 2014

BERAMAL



Sudahkah ditentukan apakah saya akan masuk syurga atau neraka? Jika sudah ditentukan, apa manfaat saya beramal ibadah untuk mendapatkan balasan syurga?

Allah Subhanahu waTa’ala sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui sudah tentu mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang akan menjadi ahli syurga dan ahli neraka. Akan tetapi kita sebagai manusia tidak mengetahui apa yang diketahui oleh Allah. Maka dengan itu kita beramal ibadah agar layak memasuki syurga.

Ini umpama sebuah sekolah yang ingin memilih olahragawan untuk pertandingan olahraga antar sekolah. Murid-murid yang berminat diundang hadir dalam sesi latihan dan pemilihan yang akan berlangsung selama sebulan, dua minggu sekali. Murid-murid yang berminat menghadirkan diri pada sesi pertama. Di antara mereka ada yang giat, disiplin mengikuti arahan pelatih dan fokus kepada program latihan. Di antara mereka ada juga yang malas-malasan, mengabaikan arahan pelatih, merokok sembunyi-sembunyi dan fokus untuk menarik perhatian pelajar lain yang menonton. Sesi latihan dan pemilihan ini, tidak ada paksaan. Masing-masing hadir atas pilihan sendiri dan membawa diri mengikuti kehendak sendiri dengan harapan dapat mewakili sekolah.

Melihat usaha, disiplin dan fokus murid-murid tersebut, pelatih sekolah dengan mudah sudah dapat mengetahui siapakah di antara mereka yang akan terpilih mewakili sekolah. Sekalipun ia hanya dugaan pertama kali saat sesi pertama, ilmu dan pengalamannya sudah cukup untuk membuat dia mengenal siapakah yang akan mewakili sekolah.
Setelah sebulan, pertandingan olahraga di antara murid-murid yang hadir sejak sesi pertama diadakan. Ternyata, murid-murid yang diduga pelatih sejak sesi pertama mendapat tempat pertama, kedua dan ketiga sehingga layak mewakili sekolah.
Maha Suci Allah dari sembarang perumpamaan dengan makhluk-Nya. Pelatih tersebut umpama Allah yang mengetahui sejak azali sementara murid-murid tersebut umpama manusia yang berusaha mengikuti pilihan masing-masing. Sejak awal Allah sudah mengetahui siapakah yang layak memasuki syurga sementara manusia tidak tahu. Maka setiap orang beramal dengan harapan akan memasuki syurga. Ini sekadar perumpamaan. Tentu saja ilmu Allah serta taqdir-Nya jauh lebih hebat dan sempurna.

Terhadap persoalan ini terdapat sebuah hadis di mana ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu anh menerangkan:
 Kami menghadiri satu pemakaman di perkuburan al-Gharqad. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam datang kepada kami dan duduk, lalu kami turut duduk di sekitar baginda. Bersama baginda terdapat sebatang kayu. Baginda menundukkan kepala dan mulai mencakar tanah dengan kayu itu lalu bersabda:
“Tidak ada seorang jua dari kalangan kalian, tidak juga dari kalangan jiwa yang bernafas kecuali Allah telah menulis tempat duduknya apakah syurga atau neraka dan Allah telah menulis kesengsaraan atau kebahagiaannya.”
‘Ali berkata, seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah! Tidakkah dengan itu kami berserah ke atas apa yang ditetapkan ke atas kami dan meninggalkan amalan kami?”
Rasulullah menjawab: “Siapa yang tergolong dari kalangan orang yang bahagia maka akan didorong ke arah amalan orang yang bahagia sementara siapa yang tergolong dari kalangan orang yang sengsara maka akan didorong ke arah amalan orang yang sengsara.”
Baginda meneruskan: “Beramallah! Maka setiap individu akan dipermudahkan. Adapun orang yang bahagia maka akan dipermudahkan baginya amalan orang yang bahagia. Adapun orang yang sengsara maka akan dipermudahkan baginya amalan orang yang sengsara.”

Kemudian baginda membaca ayat: “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (1)

Berdasarkan hadits di atas, Allah Subhanahu waTa’ala telah menulis cara hidup seseorang apakah bahagia atau sengsara dan destinasi akhir apakah syurga atau neraka. Penulisan ini merupakan salah satu dari asas-asas qadar dan qadha, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah menerangkan:
 Allah menulis segala taqdir makluk-makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Allah mencipta langit dan bumi. (Rasulullah juga menerangkan) Dan Arasy berada di atas air. (2)
Adapun kita sebagai manusia, kita tidak tahu apa yang Allah tuliskan berkenaan dengan kita. Maka tanggungjawab kita ialah tetap beramal sebagaimana perintah Rasulullah: “Beramallah!”

Siapa yang memilih amal ma’aruf, maka dia akan mendapati pelbagai ruang untuk menambah amal ma’aruf dan menemui orang-orang lain yang turut memilih amal ma’aruf. Orang yang memilih untuk bersedekah umpamanya, akan mendapati banyak peluang untuk terus bersedekah dan berkenalan serta bersahabat dengan orang yang suka bersedekah dengan hartanya. Kehidupannya bahagia karena dia tidak menjadikan harta sebagai tuhannya.

Sebaliknya siapa yang memilih kerja mungkar, maka dia akan mendapati pelbagai ruang untuk menambah kerja mungkar dan menemui orang-orang lain yang turut memilih kerja mungkar. Orang yang memilih untuk minum arak umpamanya, akan mendapati banyak kelab malam untuk terus minum arak dan berkenalan serta bersahabat dengan orang yang suka minum arak. Kehidupannya sengsara karena minuman keras menjadikan dirinya kerap mabuk, dibuang kerja dan ditinggalkan ahli keluarga.

Hakikat Allah sudah mengetahui dan menulis kebahagiaan dan kesengsaraan, syurga dan neraka bagi setiap individu bukanlah alasan untuk berserah kepada taqdir dan meninggalkan amalan. Perkara ini sudah ditanya lebih 1400 tahun yang lalu: “Wahai Rasulullah! Tidakkah dengan itu kita berserah ke atas apa yang ditetapkan ke atas kami dan meninggalkan amalan kami?” dan Rasulullah menjawab: “Beramallah! Maka setiap individu akan dipermudahkan.” Artinya, beramallah dan setiap individu dimudahkan ke amalan yang menjadi pilihannya.
***
(1)Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 4786 (Kitab al-Qadar, Bab penciptaan bayi dalam rahim ibu…). Ayat al-Qur’an yang dibacakan ialah al-Lail 92:4-10.
(2)Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 4797 (Kitab al-Qadar, Bab Musa dan Adam berhujah)