Sep 19, 2013

Ketampanan: Kisah cinta yang menggalau


Kisah ini ditulis Ibnu Taimiyah dalam Siyasah Syar’iyah-nya. Tentang Nashr bin Hajjaj, seorang lelaki yang sangat tampan, bahkan mungkin paling tampan di kota Madinah yang shalih dan kalem pada masa Umar bin Khattab ra. 

 Suatu kali ketika Umar berkeliling kota Madinah, beliau mendengar suara wanita yang berpuisi tentang perasaanya pada Nashr.
Umar berkata pada dirinya sendiri, “Tidak akan terjadi selagi Umar masih hidup.” Maka, pada pagi harinya Umar mengirim seorang utusan untuk memanggil seseorang yang bernama Nashr bin Hajjaj. 
Maka Umar melihat sendiri betapa tampannya Nashr yang sudah membuat gadis-gadis mabuk kepayang. Ketampanannya menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah, kata Umar. Lantas, Umar pun menggunduli Nashr dengan maksud untuk menghilangkan atau mengurangi ketampanannya. Namun, ternyata Nashr makin tampak tampah, gagah, dan jantan.
“Pergilah dan jangan menetap di Madinah,” kata Umar. Ia pun mengirim si lelaki tampan itu ke Basrah di Irak.
Di Basrah, Nashr menginap di rumah Mujasyi’ bin Mas’ud yang dipenuhi kebahagiaan. Isteri Mujasyi’ merupakan wanita yang cantik. Celakanya, Nashr jatuh hati pada isteri Mujasyi’ yang cantik itu, dan cinta Nashr pun berbalas dari isteri Mujasyi’. Jika Nashr dan Mujasyi’ berbincang-bincang, maka sang isteri pun turut  bersama keduanya.
Suatu hari, mereka berbincang bertiga. Nashr menulis di atas tanah sebuah pernyataan. Kemudian isteri Mujasyi’ pun menulis jawaban yang sama. Mujasyi’ tidak tertarik untuk turut menulis karena ia  setengah buta huruf. Namun dia merasa curiga dengan tulisan sang isteri: “Begitu pula saya.”
Diundangnya seorang penulis dan menyuruhnya membaca tulisan di tanah itu. “Sesungguhnya,” kata si penulis itu membacakan tulisan Nashr, “Aku masih mencintaimu, yang andaikan cinta ini ada di atasmu, maka dia akan memayungimu. Dan jika cinta ini ada di bawahmu, maka ia akan menyanggamu.” Sebuah syair sajak yang romantis.
Nashr mengetahui apa yang dilakukan Mujasyi’. Maka ia pun merasa sangat malu. Dia meninggalkan rumah Mujasyi’ dan tinggal sendirian. Lama-lama badannya lemah dan kurus seperti anak burung kelaparan. Mujasyi’ dan isterinya mengetahui hal ini. Maka, atas dasar rasa kasihan Mujasyi’ menyuruh isterinya datang mengobati Nashr.
“Pergilah,” kata Mujasyi pada isterinya, “Sandarkan Nashr padamu dan  berilah dia makanan dengan tanganmu sendiri.”  Sang isteri menolak melakukan itu. Namun, Mujasyi’ tetap meminta isterinya melakukan hal itu. Betapa gembira Nashr melihat kedatangan perempuan yang dicintainya. Maka, segeralah sesudah diobati ia beranjak sembuh. Dengan kepedihan karena tak bisa menyemikan rasa cintanya Nashr bin Hajjaj pergi meninggalkan Basrah. Kota dimana ia mencintai seseorang yang tidak berada dalam satu ruang pernikahan yang sama.”
 

No comments:

Post a Comment